seharusnya entri ini ga terbit, kecuali karena kebodohan yang terlanjur tertulis.
betapa sulitnya menunjukkan pada seorang bodoh, tentang betapa berartinya dia untukku. bahkan terkadang aku lupa bagaimana wajahnya, namun yang jelas aku hapal betul bagaimana aku harus menulis namanya dan bagaimana aku harus menggambarkan sifatnya. permintaan maafku yang berkali-kali di tolak, sebenarnya siapa yang lebih bodoh diantara kita, aku atau kau?
sebentar lagi, sebentar lagi kau akan menginjak umurmu yang ke 17, kau sudah dewasa, sampai kapan kau akan berpura-pura menjadi anak kecil yang mengunci mulutnya karena mengambek? hey, apa kau tidak bisa membaca gerakanku? apa mengenalku selama bertahun-tahun itu tidak cukup untuk mengenalku? jelas sekali, mana yang lebih bodoh. aku mohon, berpikirlah, aku terlalu lelah untuk menyadarkanmu, hey, kau bukan sesuatu yang dapat di ganti, jika kau tak mau kembali, lalu dengan apa aku menambal lubang hatiku ini? aku tidak mau terlihat bodoh sepertimu, aku hanya ingin menunjukkan dan meyakinkanmu, namun kenapa kau begitu sulit untuk mengerti?
aku tau, perbuatanku mungkin telah membuatmu gila dan tak mau lagi memaafkanku. tapi jika Allah saja memaafkan hambaNya yang bertaubat, kenapa kau tak sudi untuk memaafkanku? aku sadar, aku tidak akan menemukan orang sebaik kau suatu hari nanti, itu alasan kenapa aku masih saja berpihak padamu. kau orang terbaik yang pernah aku kenal, menggunakan hatinya dengan tulus sementara yang lain menggunakan matanya dengan liar, aku.. well, aku sangat merindukanmu, entah bagaimana hidupku setelah ini. tolong jangan hanya sibukkan hidupmu dengan game-game yang sebenarnya hanya akan membuatmu gila itu. maafkan aku, aku tak pernah bermaksud untuk membuatmu gila, aku hanya... entahlah, tapi sungguh, aku tak bisa menemukan penggantimu.
aku tak mampu mewarnai hari-hariku sendiri, jadi aku minta kau kembali untuk mewarnai hari-hariku bersamaku. jika aku adalah daun, maka kaulah musimgugurnya, aku hanya akan jatuh ketika kau datang :')
Minggu, 15 April 2012
Minggu, 04 September 2011
terlanjur (?)
Entah apa yangharus tertulis
ketika semua terlanjur tertakdir
segalanya terlihat begitu indah
dan terasa begitu sakit
mengharapkan desiran ombak berhenti
sementara angin menari-nari
karena semata-mata hati ini telah tertuju
meratapi lembaran hidup lama, tertutup debu
semua terasa pilu
merengek pada Sang Pencipta
dan berpura-pura tersenyum pada sesama
aku tak pernah cukup pintar mnghadapi hatiku
dan membiakannya pergi adalah keputusan terburuk.
ketika angka 22 begitu terngiang
ketika setiap yang kutulisbagai seoonggok sampah
menyalahkan diriku sendiri atas segala yang terlanjur
semua telah terlanjur,
begitu juga aku,
terlanjur............................................... #fillintheblank :p
ketika semua terlanjur tertakdir
segalanya terlihat begitu indah
dan terasa begitu sakit
mengharapkan desiran ombak berhenti
sementara angin menari-nari
karena semata-mata hati ini telah tertuju
meratapi lembaran hidup lama, tertutup debu
semua terasa pilu
merengek pada Sang Pencipta
dan berpura-pura tersenyum pada sesama
aku tak pernah cukup pintar mnghadapi hatiku
dan membiakannya pergi adalah keputusan terburuk.
ketika angka 22 begitu terngiang
ketika setiap yang kutulisbagai seoonggok sampah
menyalahkan diriku sendiri atas segala yang terlanjur
semua telah terlanjur,
begitu juga aku,
terlanjur............................................... #fillintheblank :p
Selasa, 23 Agustus 2011
Aku?
Mereka menatapku dengan sinis sementara mereka sedang berbaris di dinding, membentuk satu jalur berbelok yang entah menuju kemana,
Bahkan angin yang berbisik itupun tak tahu apa yang harus ia bisikkan.
Sesuatu mengelabuhiku dan mengajakku terbang bersamanya.
Tapi aku terjatuh sebelum sempat mendarat,
Menemukan dia sedang melakukan gerakan hebatnya di langit,
Seseorang di sekitarku melihat ke arahnya, berdecak.
Melupakanku yang baru saja terjatuh~ yang mungkin tulangnya remuk.
Tapi dua ekor semut mendekat.
Yang satu mengejekku namun menawarkan bantuannya.
Dan yang satu lagi menenggelamkanku dalam petuahnya.
Namun bagaimanapun, hanya mereka yang memperdulikanku,
Sementara aku menatap jauh ke langit, melihatnya bersaing bersama awan-awan putih.
Meliuk menakjubkan, melupakan segalanya.
Dia tertawa saat itu, dan lupa bahwa suatu saat pasti akan menangis.
Aku terpaku, duduk diatas tanah sambil menekuk lutut.
Menunggu seseorang mengajakku terbang dengan sayap yang lebih lebar,
Memberi jaminan aku tak akan pernah terjatuh, untuk kedua kalinya.
Dan dia masih saja terbang meliuk.
Tidak ada yang di bawanya, lupa bahwa dia pernah menyakiti yang 'pernah' di bawanya.
Tiba-tiba angin topan berhembus kencang, mematahkan kedua sayapnya.
Dia tidak menangis karena semua orang melihatnya, menolongnya.
Dan ketika aku menawarkan tanganku, dia berpura-pura tidak melihatnya. Lebih memilih bantuan oranglain
Aku kembali duduk di tanah, menengadahkan tanganku~ berdoa untuknya.
Semoga dia di kelilingi orang baik yang tidak mengubah sayap putihnya menjadi hitam.
Yang tersisa hanyalah dua semut yang mencoba menghiburku.
Mendengarkan suara alam melalui gesekan daun yang gugur.
Mendengarkan kembali suara hati yang telah lama terkelabuhi.
Menatap langit biru dari balik gunung yang saling menyembul,
Gesekan rumput seolah mengatakan "sesuatu akan baik saja",
Lalu kemudian aku menyeret langkahku,
Menemukan Jutaaan orang yang telah menantikanku,
Menantikanku memetik bintangku untuk mereka~
Bahkan angin yang berbisik itupun tak tahu apa yang harus ia bisikkan.
Sesuatu mengelabuhiku dan mengajakku terbang bersamanya.
Tapi aku terjatuh sebelum sempat mendarat,
Menemukan dia sedang melakukan gerakan hebatnya di langit,
Seseorang di sekitarku melihat ke arahnya, berdecak.
Melupakanku yang baru saja terjatuh~ yang mungkin tulangnya remuk.
Tapi dua ekor semut mendekat.
Yang satu mengejekku namun menawarkan bantuannya.
Dan yang satu lagi menenggelamkanku dalam petuahnya.
Namun bagaimanapun, hanya mereka yang memperdulikanku,
Sementara aku menatap jauh ke langit, melihatnya bersaing bersama awan-awan putih.
Meliuk menakjubkan, melupakan segalanya.
Dia tertawa saat itu, dan lupa bahwa suatu saat pasti akan menangis.
Aku terpaku, duduk diatas tanah sambil menekuk lutut.
Menunggu seseorang mengajakku terbang dengan sayap yang lebih lebar,
Memberi jaminan aku tak akan pernah terjatuh, untuk kedua kalinya.
Dan dia masih saja terbang meliuk.
Tidak ada yang di bawanya, lupa bahwa dia pernah menyakiti yang 'pernah' di bawanya.
Tiba-tiba angin topan berhembus kencang, mematahkan kedua sayapnya.
Dia tidak menangis karena semua orang melihatnya, menolongnya.
Dan ketika aku menawarkan tanganku, dia berpura-pura tidak melihatnya. Lebih memilih bantuan oranglain
Aku kembali duduk di tanah, menengadahkan tanganku~ berdoa untuknya.
Semoga dia di kelilingi orang baik yang tidak mengubah sayap putihnya menjadi hitam.
Yang tersisa hanyalah dua semut yang mencoba menghiburku.
Mendengarkan suara alam melalui gesekan daun yang gugur.
Mendengarkan kembali suara hati yang telah lama terkelabuhi.
Menatap langit biru dari balik gunung yang saling menyembul,
Gesekan rumput seolah mengatakan "sesuatu akan baik saja",
Lalu kemudian aku menyeret langkahku,
Menemukan Jutaaan orang yang telah menantikanku,
Menantikanku memetik bintangku untuk mereka~
Senin, 22 Agustus 2011
Dear Bloggie
Hey! kali ini aku kembali, di saat liburanku (lagi-lagi) hampir selesai :p
wokwok, Tepat satu bulan yang lalu, sore-sore. di saat minggu-minggu pertama liburanku. Thanks God It's Friday mengalun penuh misteri. mengahdirkan kembali secuil kenangan yang hampir saja terlupakan. dia mengingatkanku lagi pada semuanya ---mengingatkanku, melambungkanku, dan sedetik kemudian menghempaskanku ke bawah. hingga semua hancur. aku hancur dan rasanya tidak ada lagi yang tersisa. ingin rasanya ku robek semua surat yang ku tulis untukmu, yang tak akan pernah terkirim dan terbaca --,'' dan mungkin aku juga harus merobek semua halaman buku tulisku yang selalu 'terlanjur' tertulis namamu, nama yang begitu sulit ku hafal awalnya. Mungkin kau harus menjadi aku untuk tahu betapa berartinya dirimu.
Aku tahu, kau terlalu baik untukku. dan aku terlalu jahat, aku terlalu cepat menyerah ketika kau tak mengangkat telfonku. entah kapan itu, ketika kau berhenti menghubungiku. aku tahu kau coba melupakanku, iya kan? tapi ngga semudah itu. karena aku terlanjur jadi yang pertama dan kau terlanjur mengelu-elukannya. seolah aku ini seorang putri yang ada di kastil tinggi dan kau telah berhasil memanjat kastil itu demi menemuiku. namun kali ini, mungkin kau tengah menemui peri-peri kecilmu yang sedang bertebangan ke sana kemari, mengejarnya dan melupakanku yang sebenarnya masih terus mengintaimu. dan sebenarnya --'' (oke, berat mengatakannya) ini adalah proses pemahaman terhadap apa itu ***** (kata terlarang). terkadang kita harus melepaskan seseorang untuk membuatnya bahagia. karena kebahagiaannya adalah sesuatu yang harus kita pertahankan, meskipun itu akan mengikis kebahagian kita sendiri -_-
Aku baru kemarin mendengarnya, ternyata kau mencariku pada 'Pelepasan' itu? haha, maaf, aku tidak ada. dan di setiap acara yang kau harap aku hadir, aku tidak ada. haa~ maaf, aku mengecewakanmu. dan berapa banyak lagi kekecewaanmu yang telah ku buat? 4 Juni 2010, kau mengatakan kata terlarang itu di akhir telfon kita. kata yang selalu menyemangatiku untuk membuatmu bangga :'( yang membuatku menangis dalam do'aku untukmu. dan hebatnya, aku tak pernah bisa berhenti berdo'a untukmu. di setiap aku risau, ku tulis surat untukmu~ di kertas sekecil apapun itu~ di buku manapun itu~ karena setiap kali aku mencurahakannya aku merasa lebih baik. "dear Yow" lebih menenangkanku daripada "dear Diary" haha~ kau sebenarnya telah merubahku, jauh, dan jauh lebih baik. tapi aku merubahmu, jauh~ dan jauh lebih buruk. MAAF, maaf untuk segala kangen, kesel, benci, sebel, kecewa yang pernah kamu rasain. bukannya aku~ oke,seperti yang aku tulis. "mungkin kamu harus jadi aku untuk tahu alasannya" "mungkin kamu harus jadi aku untuk tahu rasanya", cukup, aku tahu tulisan ini ngga bakal di baca oleh orang yang di maksud.
Terimakasih, untuk warna-warni yang pernah kamu kasih. ngeliat kamu keringetan setiap usaha ngomong sama aku. kamu~ mungkin terlalu baik. aku bisa apa? aku bukan apa-apa, aku cuma seorang yang beruntung pernah kenal sama kamu, pernah duduk di depan kamu dulu, pernah satu kelompok sama kamu, pernah becanda, pernah TO bareng, pernah bikin kamu malu setengah mati, maaf buat pressure yang percuma itu -.- aku tahu, ngga ada yang suka perpisahan.
but, "i know you'll find your ownway, when i'm not with you"
and i've found you, with your ownway now, gamers! and i've heard your screamin', wkwk, awesome! and all you've done to me, made me learn to hate you~ (spik)
Hahaha, goodbye goodboy! you're not my prince, and i'm not your princess, this ain't a fairytale.
and for all i've done to you, maybe it's annoy you~ wkwk, i just cant believe it's happends.
wokwok, Tepat satu bulan yang lalu, sore-sore. di saat minggu-minggu pertama liburanku. Thanks God It's Friday mengalun penuh misteri. mengahdirkan kembali secuil kenangan yang hampir saja terlupakan. dia mengingatkanku lagi pada semuanya ---mengingatkanku, melambungkanku, dan sedetik kemudian menghempaskanku ke bawah. hingga semua hancur. aku hancur dan rasanya tidak ada lagi yang tersisa. ingin rasanya ku robek semua surat yang ku tulis untukmu, yang tak akan pernah terkirim dan terbaca --,'' dan mungkin aku juga harus merobek semua halaman buku tulisku yang selalu 'terlanjur' tertulis namamu, nama yang begitu sulit ku hafal awalnya. Mungkin kau harus menjadi aku untuk tahu betapa berartinya dirimu.
Aku tahu, kau terlalu baik untukku. dan aku terlalu jahat, aku terlalu cepat menyerah ketika kau tak mengangkat telfonku. entah kapan itu, ketika kau berhenti menghubungiku. aku tahu kau coba melupakanku, iya kan? tapi ngga semudah itu. karena aku terlanjur jadi yang pertama dan kau terlanjur mengelu-elukannya. seolah aku ini seorang putri yang ada di kastil tinggi dan kau telah berhasil memanjat kastil itu demi menemuiku. namun kali ini, mungkin kau tengah menemui peri-peri kecilmu yang sedang bertebangan ke sana kemari, mengejarnya dan melupakanku yang sebenarnya masih terus mengintaimu. dan sebenarnya --'' (oke, berat mengatakannya) ini adalah proses pemahaman terhadap apa itu ***** (kata terlarang). terkadang kita harus melepaskan seseorang untuk membuatnya bahagia. karena kebahagiaannya adalah sesuatu yang harus kita pertahankan, meskipun itu akan mengikis kebahagian kita sendiri -_-
Aku baru kemarin mendengarnya, ternyata kau mencariku pada 'Pelepasan' itu? haha, maaf, aku tidak ada. dan di setiap acara yang kau harap aku hadir, aku tidak ada. haa~ maaf, aku mengecewakanmu. dan berapa banyak lagi kekecewaanmu yang telah ku buat? 4 Juni 2010, kau mengatakan kata terlarang itu di akhir telfon kita. kata yang selalu menyemangatiku untuk membuatmu bangga :'( yang membuatku menangis dalam do'aku untukmu. dan hebatnya, aku tak pernah bisa berhenti berdo'a untukmu. di setiap aku risau, ku tulis surat untukmu~ di kertas sekecil apapun itu~ di buku manapun itu~ karena setiap kali aku mencurahakannya aku merasa lebih baik. "dear Yow" lebih menenangkanku daripada "dear Diary" haha~ kau sebenarnya telah merubahku, jauh, dan jauh lebih baik. tapi aku merubahmu, jauh~ dan jauh lebih buruk. MAAF, maaf untuk segala kangen, kesel, benci, sebel, kecewa yang pernah kamu rasain. bukannya aku~ oke,seperti yang aku tulis. "mungkin kamu harus jadi aku untuk tahu alasannya" "mungkin kamu harus jadi aku untuk tahu rasanya", cukup, aku tahu tulisan ini ngga bakal di baca oleh orang yang di maksud.
Terimakasih, untuk warna-warni yang pernah kamu kasih. ngeliat kamu keringetan setiap usaha ngomong sama aku. kamu~ mungkin terlalu baik. aku bisa apa? aku bukan apa-apa, aku cuma seorang yang beruntung pernah kenal sama kamu, pernah duduk di depan kamu dulu, pernah satu kelompok sama kamu, pernah becanda, pernah TO bareng, pernah bikin kamu malu setengah mati, maaf buat pressure yang percuma itu -.- aku tahu, ngga ada yang suka perpisahan.
but, "i know you'll find your ownway, when i'm not with you"
and i've found you, with your ownway now, gamers! and i've heard your screamin', wkwk, awesome! and all you've done to me, made me learn to hate you~ (spik)
Hahaha, goodbye goodboy! you're not my prince, and i'm not your princess, this ain't a fairytale.
and for all i've done to you, maybe it's annoy you~ wkwk, i just cant believe it's happends.
Kamis, 17 Februari 2011
Tulisan
Ini tulisan untukmu, walaupun aku tahu kau tak akan pernah membacanya :)
Hey, kau yang sedang membaca tulisan ini, ini tentang dia, yang pernah merubahku jadi lebih baik, namun ternyata tak bisa merubah dirinya menjadi lebih baik, bahkan jauh lebih buruk.
Dia, anak paling baik yang pernah aku kenal, dia terlalu ramah untukku. Dia punya banyak teman dan sepertinya tidak pernah ada kesedihan yang menghampirinya. Dia selalu tersenyum dan tertawa, dan setiap kalimat yang dia ucapkan untuk menenangkan setiap kepanikanku. Ya, dia bisa menenangkannya. Dalam pikiranku, kami bagaikan dua anak kecil yang lari bergandengan tangan demi mengejar pelangi yang mulai memudar, dan saat menemukan pelangi itu pudar, kami akan menari berputar-putar karena senang hujan telah reda, dan kembali berlari untuk bermain diatas bukit. Haha, dia mengajariku bagaimana cara untuk tersenyum dan tertawa, dia mengajariku bahwa hidup itu indah. Dan makin indah jika kau tidak menikmati hidup itu sendiri, tetapi bersama seseorang, seseorang yang mampu menyayangimu dengan tulus. Namun aku terlalu menaruh kepercayaan kepadanya, dan aku terlalu menumpuk bahagia yang harusnya tercurahkan, dengan kepergianku, ya.... sesuatu memaksaku untuk pergi jauh, dia pernah berjanji untuk menjaganya. Dalam pikiranku, aku akan memberikan hatiku di detik-detik terakhir sebelum keberangkatanku, aku menangis, namun kau mengajari bahwa senyum itu akan mengindahkan sebuah perpisahan. Di saat roda mobil itu berjalan, aku masih melihat ke arahmu sambil melongok dari jendela, di situ aku tersenyum, aku ingin kau tahu bahwa aku juga bisa sepertimu, mengambil sisi positiv lalu tersenyum untuk itu. Aku melihat kau melambaikan tanganmu penuh semangat sambil menggenggam hatiku dan meletakkannya di dekat hatimu, di saat ku pergi kau akan merawatnya sepenuh hati, menjaganya sebagaimana kau menjaga hatimu, bahkan lebih. Dan kau mendoakanku setiap hari dari jauh, seperti janjimu dulu :’( “aku akan mendoakanmu di setiap hembusan nafasku :) haha” ,karena seharusnya kau tahu, aku mendoakanmu di setiap shalatku, karena aku menyayangimu. Lalu aku berjuang untuk nilai-nilai terbaikku yang akan ku perlihatkan padamu, bahwa aku tak sia-sia pergi meninggalkanmu. Dan saat lonceng tanda perpulangan itu berbunyi dan semua siswa bersorak, aku ada diantara mereka sambil membawa koper, di dalam koper itu ada sebuah buku, isinya cerita-cerita untukmu, dan tulisan namamu yang ku ukir indah, tentang segala yang ku alami dan ku ceritakan seolah kau ada di sampingku dan mendengarkanku, karena hanya itu yang mampu menenangkanku. Aku menulisnya di setiap waktu senggangku, bahkan aku membawanya ke kelas! Dan aku bahagia karena aku berpikir bahwa aku dapat menunjukkan kepadamu dan membiarkan kau membacanya saat perpulangan ini. NAMUN AKU SALAH.....
Aku menemukanmu menjauhiku demi menikmati kehidupanmu sendiri, pikiranku melayang jauh tentang hari-hariku di tempat itu, saat aku menunggu ada orang yang di jenguk hanya untuk menitipkan sms padamu, dan menitipkannya juga tak semudah yang kau pikirkan, aku harus membujuknya dengan sangat, bahkan banyak dari mereka yg tidak mau di titipi karena banyak alasan, dan saat ku bisa mengirimnya, di kamar aku berharap banyak tentang mendapat balasan, namun ketika ku tanya “ngga ada balesan apa-apa kok”, oke mungkin kau kehabisan pulsa. Dan ketika aku ingin menelfonmu, aku harus mandi sebelum subuh, kemudian mengantri di wartel selama berjam-jam karena wartel itu sangat penuh, bahkan aku mengorbankan waktu makanku! Dan saat giliranku, aku tersenyum karena hatiku mulai menari-nari, namun ternyata............kau tidak mengangkat! Aku berusaha lagi-lagi, dan minggu-minggu setelah itu. Oke, mungkin kau sedang sibuk. Dan yang paling menyakitkan ketika aku sakit parah, setelah satu minggu aku hanya bisa terkapar di kasur, akhirnya mamahku datang untuk membawaku pulang. Tepat 1 November 2010, aku mengirimimu pesan yang menyatakan bahwa aku sedang pulang, kau orang pertama yang ku hubungi. Ku tunggu balasanmu, namun tak ada satupun, padahal kau masih aktif! Itu yang membuatku kecewa dan memutuskan tidak menghubungi yang lain, namun setelah seminggu lebih dan aku agak merasa sehat, aku menghubungi sabila, teman baikku namun tak ada lagi waktu untuk menjengukku karena aku harus kembali lagi. Itu kali pertama aku di rumah sakit, kali pertama aku di infus, mungkin jika itu orang lain, maka orang tersayangnya akan ada di sampinya dan tersenyum untuknya meski bukan setiap detik dia ada disampingnya, karena dia tau kehadiran orang tersayang itu akan menguatkannya. Namun itu bukan takdir untukku, bahkan aku sering sendirian di ruang rumah sakit yang dingin itu, ingin rasanya menangis, namun aku harus kuat demi kedua orangtuaku dan diriku sendiri.
Dan kali ini, aku pikir kepulanganku yang sebentar ini akan memenuhi hari-harimu, ku pikir kau merindukanku. Namun ternyata aku salah besar, aku salah atas segala yang aku pikirkan tentangmu, aku salah menilai dan memandang mu. Aku melihatmu jauh di seberang dengan tatanan rambut baru yang menyerupai anak-anak jalanan yang kau bilang ‘keren’, asal kau tahu, kau lebih keren saat kau dengan tatananmu yang sering ku lihat dulu tersenyum kepadaku, saat kau berpikir bagaimana mengerjakan soal matematika yang susah itu. Dan apabila kau berpikir bahwa kau merasa lebih ‘gaul’ dengan tatanan barumu, menurutmu kau gaul ketika kau mempunyai banyak sekali teman dimana-mana dan kau tau banyak hal yang belum kau tau dari mereka, namun kau tetap bisa menjaga dirimu, kriteria yang menjadi ciri khasmu. Aku kehilangan kau yang ku kenal dulu , bahkan rasanya aku tak mengenal kau yang sekarang.
dan saat ini, kau seolah membenciku, dan pikiranku tentang hal itu sedikit banyak menyiksaku. Ku pikir adanya aku selama perpulangan ini akan memenuhi hari-hari, ku pikir kau merindukan adaku, namun ternyata aku salah. Aku bukanlah siapa-siapa, kau melupakan segala cerita yang pernah ku ukir bersamamu dulu, bahkan kau melupakan segala janjimu yang seharusnya kau tepati, aku ingat semuanya....... tentang kado ulang tahun tahun lalu, tentang cokelat tahun lalu, dll. Bahkan kau tak mengucapkan apapun untuk fifteen ku J terimakasih. Dan valentine tahun ini? Mari kita melupakan segalanya.
mungkin kau hanya tak tega mengatakan bahwa kau sebenarnya membenciku.
semuanya mengajari untuk membencimu.
mungkin sudah seharusnya kita mengakhirinya
aku tak ingin menyiksamu, kau bebas sekarang.
sekarang waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal, dan menjalani hidup dengan biasa
karena permainan ini telah berakhir
Dan kali ini, aku pikir kepulanganku yang sebentar ini akan memenuhi hari-harimu, ku pikir kau merindukanku. Namun ternyata aku salah besar, aku salah atas segala yang aku pikirkan tentangmu, aku salah menilai dan memandang mu. Aku melihatmu jauh di seberang dengan tatanan rambut baru yang menyerupai anak-anak jalanan yang kau bilang ‘keren’, asal kau tahu, kau lebih keren saat kau dengan tatananmu yang sering ku lihat dulu tersenyum kepadaku, saat kau berpikir bagaimana mengerjakan soal matematika yang susah itu. Dan apabila kau berpikir bahwa kau merasa lebih ‘gaul’ dengan tatanan barumu, menurutmu kau gaul ketika kau mempunyai banyak sekali teman dimana-mana dan kau tau banyak hal yang belum kau tau dari mereka, namun kau tetap bisa menjaga dirimu, kriteria yang menjadi ciri khasmu. Aku kehilangan kau yang ku kenal dulu , bahkan rasanya aku tak mengenal kau yang sekarang.
dan saat ini, kau seolah membenciku, dan pikiranku tentang hal itu sedikit banyak menyiksaku. Ku pikir adanya aku selama perpulangan ini akan memenuhi hari-hari, ku pikir kau merindukan adaku, namun ternyata aku salah. Aku bukanlah siapa-siapa, kau melupakan segala cerita yang pernah ku ukir bersamamu dulu, bahkan kau melupakan segala janjimu yang seharusnya kau tepati, aku ingat semuanya....... tentang kado ulang tahun tahun lalu, tentang cokelat tahun lalu, dll. Bahkan kau tak mengucapkan apapun untuk fifteen ku J terimakasih. Dan valentine tahun ini? Mari kita melupakan segalanya.
mungkin kau hanya tak tega mengatakan bahwa kau sebenarnya membenciku.
semuanya mengajari untuk membencimu.
mungkin sudah seharusnya kita mengakhirinya
aku tak ingin menyiksamu, kau bebas sekarang.
sekarang waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal, dan menjalani hidup dengan biasa
karena permainan ini telah berakhir
Senin, 14 Februari 2011
Gue Kangen Lo, BODOH!
hari ini tanggal... 14 FEBRUARI !! hello, apa bedanya tanggal ini pada tahun ini dan tahun lalu?
rasanya tahun lalu itu bahagia banget, tahun ini? YaAllah :'(
Gue Kangen Lo, Bodoh!
betapa bodohnya lo, menyianyiakan hari yang gue tunggu-tunggu dari lama, dan lo tau? gue sering berdoa semoga gue bisa bahagia di hari ini :) dan gue harap gue bahagia karena lo.
tapi nyatanya gue kecewa, bodoh :) lo bodoh karena lo menyia-nyiakan usaha gue buat ngehubungin lo duluan. ngerti dikit kek!
makin kecewa waktu ngga sengaja (atau sengaja ya?) gue liat foto-foto lo bareng temen-temen lo. lo bodoh karena lo nyoba gaya anak jalanan! itu ngga kerenan, masih kerenan lo yang cupu tapi baik hati :') gue lebih suka itu. lo jelek dengan gaya lo yang itu, gue kehilangan lo.
dan waktu gue masih jauh, usaha gue buat sms lo berkali-kali, ngga ada satupun yang di bales! gue udah ngantri nelfon berjam-jam di wartel yang penuh sesak itu, pas dapet giliran dan menekan angka-angka yang ternyata itu nomer telfon lo. gue udah deg-degan tapi ternyata lo ngga ngangkat! sakit ati BODOH! betapa bodohnya lo karena bikin gue kaya gitu, dan bodohnya lagi lo ngga tau kan usaha gue? cuma buat nitip sms buat lo aja, itu susah meeeen! gue ada di penjara suci, beda sama lo yang bebas berkeliaran kemanapun lo mau. kita beda! dulu lo paham, sekarang gue kehilangan lo yang bisa mahamin gue.
Gue Kangen Lo, Bodoh!
padahal gue berharap hari ini bisa istimewa. dengan harapan lo inget hari apa hari ini, apa yang terjadi pada tanggal 14 februari 2010? apa yang terjadi pada 14 februari 2011? bahkan gue udah coba ngingetin pake kalimat "i fell like i've won". oke, mungkin kalimat itu ngga ada maknanya bagi lo, tapi bagi gue ada, dalem lagi :'( lo nyia-nyiain kalimat itu.
Bodoh, sebodoh-bodohnya lo, gue ngga bisa marah sama lo.
gue kesel, tapi setiap ngeliat lo... gue pingin ngelindungi lo,bodoh.
lo lemah di mata gue, dan gue harap gue bisa terus jagain lo yang lemah :)
bodoh, kalo lo baca tulisan ini, gue harap lo paham..
Gue tau banget, lo pasti cape nungguin gue.
tapi ngga usah pake acara ngegantung gue bisa kali ya?
jujur itu lebih baik bodoh, gue tau kok sebenernya lo ngga sebodoh yang gue kira, kalo lo bisa make hati lo tepat pada tempatnya.
gue berharap banget lo baca ini, kalopun engga....
makasih bodoh, atas segalanya, gue cape, goodbye, silahkan cari yang lebih baik dari seorang yang kaya gue
rasanya tahun lalu itu bahagia banget, tahun ini? YaAllah :'(
Gue Kangen Lo, Bodoh!
betapa bodohnya lo, menyianyiakan hari yang gue tunggu-tunggu dari lama, dan lo tau? gue sering berdoa semoga gue bisa bahagia di hari ini :) dan gue harap gue bahagia karena lo.
tapi nyatanya gue kecewa, bodoh :) lo bodoh karena lo menyia-nyiakan usaha gue buat ngehubungin lo duluan. ngerti dikit kek!
makin kecewa waktu ngga sengaja (atau sengaja ya?) gue liat foto-foto lo bareng temen-temen lo. lo bodoh karena lo nyoba gaya anak jalanan! itu ngga kerenan, masih kerenan lo yang cupu tapi baik hati :') gue lebih suka itu. lo jelek dengan gaya lo yang itu, gue kehilangan lo.
dan waktu gue masih jauh, usaha gue buat sms lo berkali-kali, ngga ada satupun yang di bales! gue udah ngantri nelfon berjam-jam di wartel yang penuh sesak itu, pas dapet giliran dan menekan angka-angka yang ternyata itu nomer telfon lo. gue udah deg-degan tapi ternyata lo ngga ngangkat! sakit ati BODOH! betapa bodohnya lo karena bikin gue kaya gitu, dan bodohnya lagi lo ngga tau kan usaha gue? cuma buat nitip sms buat lo aja, itu susah meeeen! gue ada di penjara suci, beda sama lo yang bebas berkeliaran kemanapun lo mau. kita beda! dulu lo paham, sekarang gue kehilangan lo yang bisa mahamin gue.
Gue Kangen Lo, Bodoh!
padahal gue berharap hari ini bisa istimewa. dengan harapan lo inget hari apa hari ini, apa yang terjadi pada tanggal 14 februari 2010? apa yang terjadi pada 14 februari 2011? bahkan gue udah coba ngingetin pake kalimat "i fell like i've won". oke, mungkin kalimat itu ngga ada maknanya bagi lo, tapi bagi gue ada, dalem lagi :'( lo nyia-nyiain kalimat itu.
Bodoh, sebodoh-bodohnya lo, gue ngga bisa marah sama lo.
gue kesel, tapi setiap ngeliat lo... gue pingin ngelindungi lo,bodoh.
lo lemah di mata gue, dan gue harap gue bisa terus jagain lo yang lemah :)
bodoh, kalo lo baca tulisan ini, gue harap lo paham..
Gue tau banget, lo pasti cape nungguin gue.
tapi ngga usah pake acara ngegantung gue bisa kali ya?
jujur itu lebih baik bodoh, gue tau kok sebenernya lo ngga sebodoh yang gue kira, kalo lo bisa make hati lo tepat pada tempatnya.
gue berharap banget lo baca ini, kalopun engga....
makasih bodoh, atas segalanya, gue cape, goodbye, silahkan cari yang lebih baik dari seorang yang kaya gue
Rabu, 15 September 2010
My ShortStory :)
Sesuai janji aku ke Ukhti Bibeeh, ini cerpen yang aku kirim ke KAWANKU tapi ga menang sih :p dan ini 'cerita asli'nya, sedangkan yang gue kirim itu setelah di potong berkali-kali :(
JANGAN COPAS PLEASEE! Allah tau kok yag lo lakuin, kalo lo dzolim sama gue pasti ada balesannya :)
SUFFER FROM A LOSS
JANGAN COPAS PLEASEE! Allah tau kok yag lo lakuin, kalo lo dzolim sama gue pasti ada balesannya :)
SUFFER FROM A LOSS
Aku tersentak bangun dari tidurku, ku lihat jam di dinding kamarku yang baru menunjukkan pukul 3 pagi, handphoneku berdering dengan nyaringnya seolah tak peduli pada sekelilingnya yang masih tertidur pulas. Kuraih HP itu, ku angkat telponnya
“ Ya. “ kata ku dengan suara bingung karna nomor itu tak di kenal.
“ uhk, ini Adit ? “ suara ini menunjukkan bahwa pemiliknya sudah menangis semalaman
“ iya, ada apa ? “ tanyaku dengan nada khawatir, tak bisa menutupi perasaanku.
“ Dit , Olive kritis .. .. “ hanya itu suara yang sempat ku dengar karena selanjutnya si penelpon pun menangis kencang. HPku biarkan tergeletak di lantai, aku tak bisa dan tak sanggup lagi menggenggamnya aku hanya membayangkan hilangnya cinta pertama itu dari dalam kehidupanku. Aku tak tau harus melalukan apa ketika kenyataan berakhir pahit seperti ini, kenyataan yang membawaku kepada kebenaran yang menunjukkan sikap pengecutku. Cinta pertamaku, Olivia Zane Andini yang telah merebut segala yang ada di kehidupanku. Yang membuat aku ingin selalu ada di sampingnya, mendengar ceritanya, melihatnya, merasakan betapa cinta itu indah. Dia yang benar – benar cinta pertamaku, dan kini kenyataan dengan tega merebutnya dariku. Membiarkan diri ini terpuruk hingga mungkin ajal akan menjemputku. Aku tak tau harus berkata apa karna yang kulihat ini adalah kenyataan. Ketika di hadapkan oleh kenyataan ini, aku ingin dia tau betapa sesungguhnya aku mencintainya dan aku ingin dia tau hanya dia yang telah mengisi hatiku. Aku ingin dia sadar dengan segala yang telah aku curahkan hanya untuknya, namun bibirku terlalu kelu untuk mengatakan ‘aku mencintaimu’ padanya, bibirku terlalu transparan untuk mengobrol dengannya. Bahkan aku yang selalu melindungi tubuhku dari sentuhan perempuan manapun, tak kan bisa menghindar dari tarikannya, dia menarikku lebih dalam ke dalam cintanya. Terlalu manis untuk terucap, bahkan hingga saat ini aku mengingatnya secara detail, semua jawaban, kata – kata yang muncul dari bibirnya. Dia bahkan melebihi bidadari bagiku, dia membuatku seolah sempurna, dia membuatku hanya bisa memandangnya tidak yang lain. Dan sekarang, aku di hadapkan pada kenyataan yang tak memperbolehkan aku menangis karena aku laki – laki, aku Aditya Vino Wijaya . Sekarang aku sangat menyesal tak pernah mengungkapkan cintaku padanya, seseorang yang bagaikan segalanya bagiku, hatiku berubah kelam, tak ada lagi yang bisa aku lihat di dalamnya. Cinta yang dulu ada dan akan selalu ada, walaupun akan terasa berbeda, dan hingga saat ini aku selalu memutar kembali kenanganku dengannya. Aku memang laki – laki yang terlalu lemah, bahkan aku tak sanggup menanyakan alasan kenapa Olive kritis . Ku raih lagi handphone ku, ku telpon lagi nomor yang tadi menelponku. Beberapa menit aku menunggu jawaban,
“ Adit, cepet kesini ! uhk, Adit .. cepet .“ suara itu memerintahku, aku segera keluar rumah tanpa berkata seikitpun, tanpa peduli dengan pakaianku, tanpa mematikan telponnya. Aku meraih kunci motor lalu pergi dengan motorku .
“anda di mana? “ Tanya ku khawatir.
“ aku di RS Global, cepet kesini . sepertinya masih ada yang ingin Olive beritahu kepadamu “ kata suara itu dengan cepat , sedetik kemudian aku termenung, untung jalanan sangat sepi jadi aku tak menabrak siapapun. Aku baru menyadarinya, aku segera sadar dan membawa motorku kea rah RS Global yag berjarak cukup jauh.
Sesampainya di rumah sakit, aku kembali menelpon nomor tadi hanya untuk menanyakan ruangan yang harus ku tuju. Aku mempercepat langkahku menuju ruangan itu, tak ku sadari hatiku yang benar – benar menangis di buatnya, airmataku berulang kali menetes di pipiku dan berulang kali pula aku mengusapnya. Aku tak ingin satu orang pun tau bahwa hatiku hancur, aku ingin mereka tetap menganggapku sebagai Adit yang santai dan ceria .
“ Adit! di sini .. “ suara itu memanggilku, suara si penelpon tapi tanpa perantara lagi. Aku mebalikkan tubuhku ke arah suara itu., aku memang salah jalur tadi. Aku memandanginya, dia yang selalu menemani Olive bahkan hingga sekarang , mungkin dia sahabat Olive.
“ Olive mana? “ suaraku bergetar lemah, sang penelpon pun terlihat sangat sedih, dia hanya menunjuk pintu kamar. Aku memasuki kamar itu, dan orang itu mengikutiku, tapi tak apalah mungkin karena dia khawatir aku berbuat macam – macam pada Olive , apalagi sekarang kondisiku sangat labil. Aku mengambil posisi duduk tepat di sebelah Olive, dan sang penelpon di belakangku, duduk di sofa yang panjang .
“ Olive, sadarlah “ kataku lembut seolah takut suaraku akan menyakitinya . Aku menggenggam tangan Olive lembut, aku masih merasakan kehidupan dalam tangannya. Dan seperti yang orang itu katakan, Olive seperti ingin bicara sesuatu padaku. Satu jam penuh aku berdoa sambil menggenggam tangannya, tidak ada respon sedikitpun dari tubuh Olive, bahkan detak jantungnya melemah. Aku panik dan makin menggenggam erat tangannya, aku ingin mengisyaratkan bahwa aku sangat menyayanginya dan aku tak ingin dia pergi. Sedetik kemudian, tangan Olive bergerak pelan seolah ingin menggenggam tanganku juga, matanya berputar dan sedikit demi sedikit membuka matanya. Aku tak bisa lagi menahan tangisku, tangis yang tak bisa ku ungkapkan dengan ribuan kata – kata , yang terlintas dalam benakku hanyalah “Aku terharu ”. Aku melihat senyum lemah Olive, seolah ingin mengucapkan banyak kalimat untukku.
“Adit .. “ katanya lirih dan itu menusuk hatiku , aku begitu senang dia masih mampu memanggil namaku.
“ iya Olive . “ hanya itu yang bisa terucap dari bibir ini, namun mata ini seluruhnya memandang setiap detail wajah Olive, dia menyunggingkan senyum aneh dan misterius untukku.
“ aku ingin kau tau, something “ katanya terputus – putus , dan aku tau butuh pengorbanan untuk mengatakannya. Aku hanya diam, tapi aku tau dia butuh jawaban
“ aku juga ingin kau tau . “
“ apa? “ tanyanya tetap dengan nada lemah.
“ kau duluan “ kataku sambil tersenyum, namun air mataku malah mengalir dan aku tak punya tenaga sedikitpun untuk mengusapnya. Tenagaku telah terpusat pada genggaman tangan dan wajahnya.
“ jangan menangis, aku hanya ingin berkata sesuatu yang tidak penting.”
“ aku takkan mengatakannya , jika kau tak mengatakannya”
Beberapa menit dia hanya terdiam, dia memandang wajahku dan dia menambah keyakinanku bahwa dialah yang tercipta untukku, namun itu semakin membuatk terpuruk melihat kenyataan.
“ aku menyayangimu, Aditya Vino Wijaya “ katanya lirih, dan aku hanya bisa tersenyum dan menangis .
“ dan aku sangat menyayangimu, Olivia Zena Andini “ kataku sambil menunduk, aku tak ingin melihat wajahnya dengan senyum mengembang tipis dan terlihat sangat bahagia. Aku tak kuat, aku ingin berkata lebih banyak tentang fakta yang ku simpan .
“ Jadilah milikku selamanya, Adit “ katanya sambil menyentuh pipiku, mengusap airmata di pipiku. Aku mengangguk, dia tersenyum lalu sedetik kemudian tangannya terjatuh. Aku berteriak memanggil siapa saja yang ada, suster segera masuk dan aku di paksa keluar oleh sang penelfon. Dia yang mencoba menenangkanku , namun dia hanya melakukan perbuatan yang sia – sia. Setengah jam kemudian, ketika aku berusaha menenangkan diriku sendiri yang telah lelah, dokter yang menangani Olive keluar ruangan. Aku mengerahkan segenap tenagaku untuk berlari kecil mengejar dokter itu, sang penelfon juga ikut mengejarnya.
“ Apa yang terjadi pada Olive, dok ?” tanyaku dengan wajah khawatir, cemas, sedih, marah , jengkel yang telah tercampur menjadi satu. Dokter memejamkan matanya sejenak, lalu memandangku seraya berkata
“ Kanker otaknya parah, dan kami telah berusaha semaksimal mungkin namun Tuhan yang menentukan” kata dokter, suara di belakangku langsung terdengar menangis histeris. Aku masih tak mengerti,
“ Apa maksud anda ?” tanyaku setengah memaksa dan tidak percaya.
“ Temanmu telah meninggal dunia “ kata dokter itu sambil memegangi kedua pundakku, namun aku menepisnya. Aku merasa marah pada dokter itu, aku marah karna aku tak tau apa penyakit sebenarnya yang di derita Olive, aku marah karna Olive harus pergi ketika dia telah menjadi milikku, dan aku bangga karna aku telah berjanji untuk memilikinya selamanya. Aku sedih karna dia telah meninggalkanku untuk selamanya, aku sedih karna Tuhan berkata lain, aku benci ketika aku mengingat semua ke-pecundanganku. Aku benci diriku dan aku sangat mencintai dia yang telah pergi, ketika itu aku berpikir bahwa jarak bukanlah halangan untukku mencintainya. Jadi telah ku putuskan untuk menjadi seperti binatang kesayangan Olive, kuda laut, yang hanya akan menikah satu kali seumur hidupnya, aku pun berjanji dalam diriku hanya untuk mencintai Olive seumur hidupku, dialah yang pertama di hatiku. Ada atau tak ada di dalam kenyataan, namun namanya lah yang akan selalu menghiasi setiap baris di hatiku. Aku membenturkan kepalaku ke tembok, hanya untuk membiarkan duka ini sedikit menghilang, namun malah kian perih. Aku tau Olive tak suka aku melakukannya, namun biarlah aku merasakan sakit yang dia rasakan.
“ Hentikan Adit , “ kata sebuah suara sambil memutarkan badanku, setetes darah mengalir dari keningku namun aku tak peduli . suara itu berubah menjadi isak tangis , lalu aku menjawab,
“ Apa yang perlu aku hentikan? Semua memang telah berakhir .” aku pun ikut menangis bersama sang pemilik suara, Olive memang makhluk terindah yang pernah ku temui. Cantiknya tak terpatahkan oleh apapun, dan ketika dia hilang berarti semuanya telah berakhir.
“ Ngga Adit, kamu ngga tau apa – apa . Kamu bahkan ngga tau siapa aku, kamu ngga tau Olive sakit apa, kamu ngga tau apa yang dia rasakanselama ini,kamu egois dan kamu tak peduli tapi selalu ingin di pedulikan ..” kata suara itu , aku menyadari sebagian benar, namun aku tak egois.
“ Aku ngga egois, aku tau Olive, aku mengenalnya. “ kataku dengan nada menantang, aku labil.
“ Aku tau kamu mencintai Olive tapi kamu bahkan tak pernah mencoba memahaminya. “ kata suara itu di selingi beberapa isakan yang membuat rasa ibaku muncul, namun aku tetap labil.
“ apa maksudmu ? “ tanyaku , entah dengan nada yang bagaimana.
“ entahlah, ini ! Baca semuanya dan kamu bakal ngerti . “ katanya sambil mengeluarkan diary warna hijau, aku tak tau Olive akan menyempatkan dirinya hanya untuk menulis kejadian yang telah lewat. Aku meraih diary itu, si pemilik suara yang tadi pergi entah kemana, dan aku memang tak peduli itu. Handphone-ku bergetar untuk kesekian kalinya, bedanya sekarang yang menelpon dari pihak rumah, bukan si pemilik suara yang tadi.
“ Adit, kamu di mana? Pagi – pagi udah main “ suara Ibuku terdengar, aku kesal namun menjawab
“ Temen Adit meninggal, Bu. Si Olive, tadi yang bawa Olive ke sini itu temennya tapi sekarang dia udah pulang, jadi Adit nungguin “ kataku menjelaskan sambil mencoba tetap dengan suara stabil.
“ Kenapa kamu ngga bilang Ibu ? “ suara ibuku begitu membuatku pusing
“ Aku buru – buru, ibu kasih tau ibunya Olive ya, please “ kataku dan akhirnya aku tak bisa lagi membendung tangisku. Untung ibu segera mematikan telponnya, atau ibu akan berteriak histeris di telpon mendengar anak laki lakinya menangis. Aku anak laki – laki yang kuat bukan cengeng, namun sungguh aku tak kuasa lagi untuk membendung tangis ini. Aku berjalan menuju kamar Olive, jenazahnya masih di situ dan belum di pindah, aku meluapkan segala perasaanku padanya, aku memeluk Oliveku dan dia tak bereaksi apa – apa. Ketika dia ku ceritakan segalanya, dia hanya diam membisu tak menjawab, matanya tertutup rapat seolah tak akan ada yang bia membukanya. Aku frustasi dengan keadaan ini, semuanya menghantuiku, ketika dia yang kucinta, yang setiap hari ku lihat senyumnya, yang setiap hari ku dengar celotehnya, kini hanyalah sebuah raga yang terbujur kaku. Aku tak rela, sungguh terlalu berat untukku, namun tangispun tak akan menyelesaikan sedikitpun. Hampir ber jam – jam aku meratapinya, melihatnya, memandanginya, menikmati kecantikannya untuk terakhir kali dan dalam kondisi yang sangat berbeda. Tiba – tiba saja, pintu kamar itu terbuka, ibuku dan orag tua Olive telah datang, beliau berdua langsung memeluk anaknya. Menangis histeris, aku bahkan tak mengerti kenapa mereka tak tau bahwa anak mereka sakit. Ibuku ikut menangis bersamaku, memelukku sesaat lalu mengalihkan segalanya untuk menghibur kedua orang tua Olive, setidaknya agar keduanya merasa lebih tabah menghadapi cobaan ini karna aku pun tak cukup tabah untuk menghadapi semuanya.
“ Om, Tante, biar jenazah Olive di urus dulu ya “ kataku ketika melihat 2 suster berpakaian putih mendekat, ayah Olive sedikit menyeret tubuh Ibu Olive yang tak mau jauh dari anaknya. Aku penasaran tentang apa yang terjadi di balik kejadian ini, diary hijau dan orang tua Olive yang menurutku saling berhubungan dan tentang Olive yang telah menguji ketegaranku.
“ Nak, sebaiknya kamu pulang saja ya, biar ibu dan orang tua Olive yang akan mengurus semuanya” kata ibu , aku menyadarinya, pakaian tidurku dan segalanya sangat menjijikan yang melekat di badanku. Namun aku tak ingin pergi, dan akhirnya aku pergi ketika kenyataan benar – benar memerintahkan aku untuk pergi. Mungkin aku perlu istirahat sejenak lalu kembali dengan kondisi badan yang siap mendoakan cinta pertamaku itu, aku akan selalu berdoa untuknya.
Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan tidur sejenak, setelah itu makan lalu kembali ke rumah sakit. Ketika aku memasuki ruangan tempat Olive tadi, semua sepi , aku bertanya pada orang – orang yang lewat dan sebagian mengatakan bahwa jenazahnya mungkin sudah di pindahkan. Aku bingung harus kemana, aku berkali kali mengitari setiap jalanan yang ada di rumah sakit karena aku terlalu labil untuk berpikir jernih.
“ Adit, “ suaranya mengagetkanku, suara yangamat ku kenal. Suara ibuku.
“ Bu, Olive dimana? “
“ sudah di rumahnya, sedang di urus untuk di makamkan” ketika ibu mengucapkannya, seperti ada sebuah belati yang mencabik – cabik hatiku, seperti ada pisau tajam yang menembus jantungku, aku harus menyadarinya lagi, cinta pertamaku kini telah tiada. Ibu berjalan di depanku, beliau menoleh sebentar seolah menyuruhku mengikutinya, tiba – tiba selembar kertas melayang jatuh tepat di depanku. Ku ambil kertasnya, tulisan itu mirip tulisan Olive, aku menahan nafas dan membacanya
“ aku menyayangimu” hanya itu yang tertulis, aku tersenyum karna aku bahagia namun sekarang segalanya telah berbeda. Aku menyimpan kertas itu lalu mengikuti ibuku berjalan. Aku menaiki mobil yang di kendarai ibuku, entah ke arah mana, karena yang ada dalam pikiranku sekarang hanyalah bagaimana menenangkan diriku sendiri.
Aku datang ke rumahnya, mendoakannya, melihat seluruhnya, melakukan yang aku bisa untuknya, menahan air mata ini sekuatnya, melakukan apa yang juga di lakukan sebagian orang jika tetangganya meninggal dunia. Dan aku melakukan semuanya karena, Olive yang meninggal dunia. Tiba – tiba ada sebuah pertanyaan yang mengusik hatiku, kanker otaknya dan kenapa aku tak mengetahuinya. Pertanyaan itu menggangguku setiap detik, aku resah di tengah kesedihan. Ingin ku bakar rasa penasaran itu,namun inilah aku. Aku memandangi jam ketika pembacaan doa – doa untuk Olive, jam 09.00 malam, aku mengingat Olive lagi dan ingin rasanya aku tersenyum , namun ketika pandangan itu ku arah kan pada sekelompok orang yang sedang membaca doa untuknya, senyum itu berubah. Aku tak menyangka Olive akan meninggalkanku dengan penyakit yang membuatku resah.
Hari semakin malam, aku tidak pulang ke rumah, sengaja menginap di rumah orang tua Olive hanya untuk sekedar membantu mereka. Beberapa orang yang juga menginap di situ telah tertidur lelap, namun aku tetap terjaga, di temani oleh puluhan foto Olive yang terpajang di dinding rumah itu, foto Olive yang seolah layu dan membuat mataku tak berhenti mengeluarkan air mata. Ayah Olive lewat di depanku, memandangku tertegun, mungkin karena mataku yang terlihat sangat lelah menangis seharian, beliau bahkan lebih tegar dariku. Beliau melangkah menjauhiku, aku tahu dia hanya melewatiku seakan aku hanya sebuah kerikil di jalanan. Sedikit bagian dari dalam diriku mendesah, mungkin bukan saatnya aku bertanya dan di jawab. Beberapa detik kemudian, ayah Olive terhenti di depan sebuah foto, foto Olive bersama teman – temannya, lalu sejurus kemudian meninggalkan apa yang baru saja di lihatnya. Aku berdecak, aku ingin sekali bertanya dan mengungkapkan apa yang aku rasakan saat ini, namun bibir ini dan segenap yang ku miliki saat ini hanya bisa terdiam.
Beberapa menit setelah ayah Olive menjauh dari tempatku sekarang, aku hanya terus menerus memandang ke segala arah dan tanpa tujuan, tiba tiba saja ada sesuatu yang memaksaku untuk membuka isi tasku. Aku menuruti perintah itu, karena ku anggap itu sebagai perintah dari hati kecilku, tas ku buka perlahan tak ingin ada seorang pun tau bahwa aku masih terjaga, ku lihat isi di dalamnya. Ada warna yang menarik hatiku untuk mengambilnya, sesuatu berwarna hijau, diary Olive.
“Diary, did you know? Tadi aku ngerasa di bales sama Adit, dia memperlakukan aku seolah tak ingin membuatku kecewa. Dia memperlakukan aku bagaikan aku seorang yang harus dia jaga dan dia sayangi, aku ingin dia tau kalau aku menyukainya. Lebih dari sekedar suka.”
speechless. Aku hanya terdiam, aku ingat aku pernah melakukannya tapi yang ada di otakku waktu itu hanyalah, dia seorang perempuan yang memang sudah seharusnya aku berbuat baik padanya. Tapi sejujurnya sebagian dari dalam diriku menyukainya menganggapku seperti itu. Ku buka dan ku baca lembar demi lembar, semuanya tentangku, aku ingin menangis mengenang semua kisahku dan kisahnya. Air mataku terurai namun suaraku hilang entah kemana, yang terdengar hanya isakan di tengah konsentrasiku pada apa yang ku baca. Aku memandang ke segala arah sebentar hanya untuk memastikan tidak ada satupun orang yang melihatku menangis. Aku hanya terdiam, semua bagian dari diriku terkelu membacanya, dia menganggapku seolah aku sempurna. Seperti aku menganggapnya, aku tau apa yang dia rasakan, sampai pada saat yang ku baca membuat hatiku tersentak. Aku membaca apa yang aku cari di sini, setelah membaca berbulan – bulan kisahnya, aku menemukannya.
“ Hey, dokter bilang sisa hidupku tinggal sebulan lagi. Memang tak semudah itu dokter mengatakannya, setelah aku memaksanya, dan kini aku coba menerimanya. Penyakit kanker otak yang menyerangku sejak sepuluh tahun lalu. Memang berat namun aku harus mengejar mimpiku, aku ingin Adit menggenggam tanganku dan mengatakan ‘aku mencintaimu’, walaupun itu di sisa hidupku”
Okay, Olive, aku telah melakukannya. Tanpa kau beritahu dan tanpa kau komandoi lagi, aku telah melakukannya dengan segenap hatiku untuk dirimu. Aku telah mengatakan ‘aku menyayangimu’ dan yang ku harapkan aku mengatakannya bukan di sisa akhir hidupmu. Aku ingin berteriak sekencang mungkin untuk melepas sedikit bebanku, atau mungkin menyakiti diriku sendiri untuk membuatku merasa sedikit lebih tenang, namun aku sadar seketika, hanya Olive yang bisa menenangkanku bahkan di tengah badai sekalipun. Dengan segenap tenagaku yang melemah dan yang kini hanya ku curahkan pada diary hijau itu, aku membaca lembarannya lagi, yang tadi di tulis tepat sebulan yang lalu, prediksi dokter itu benar. Secercah rasa memerintahkan aku untuk membaca diary itu lagi, larut jauh lebih dalam di antara barisan huruf yang tertata rapi. Semakin sakit hatiku, ketika yang ku baca sampai pada ‘Olive merahasiakan penyakitnya’ hanya untuk sebuah alas an yang konyol menurutku, dia tak ingin aku ikut sedih bersamanya, karena saat itu dia malah menikmati hari – harinya walaupun penuh dengan harapan harapan besar. Dan aku sebulan yang lalu, yang masih bingung apa yang harus ku katakan hari ini pada Olive, apa yang ku lakukan ketika mata kami bertemu. Aku masih ingat kisah 2 tahun lalu yang juga tertulis di diary Olive dan masih tersimpan dengan sangat jelas di otakku, ketika aku sedang di kejar temanku aku tak sengaja menabraknya, dia mendesah pelan lalu mengambil tempat minumnya yang jatuh, refleks aku ingin mengambilnya namun tangannya telah terlebih dulu menggenggam tempat minum itu, tanganku tidak sengaja menggenggam tangannya tapi aku buru - buru melepasnya sambil berkata sekenanya lalu lari lagi. Padahal aku tau sudah tak ada yang mengejarku, dan di tengah lariku aku menengok ke belakang melihat wajah Olive yang sedikit memerah, aku hanya tersenyum kecil. Banyak kisah yang ku lalui bersamanya, tak bisa ku ceritakan lebih luas atau kau akan melihatku menangis. Aku membaca kembali apa yang telah ku lewati, yang ku ingat, yang terlupakan bahkan yang terlewatkan. Kisahku yang terlewatkan bahkan yang sama sekali tak ku lihat membuatku sedikit menyesalinya, mengasihani diriku sendiri yang terlalu lama terperangkap dalam jerat hati yang tak tentu arah. Mataku tertuju pada beberapa baris tulisan Olive yang berisi,
“ ternyata Nita memang sahabat aku yang paling baik, yang mau nemenin aku. Di saat aku sehat atau sakit, aku udah cerita sama dia tentang penyakit aku. Dia hebat, dia malah nguatin aku :) aku pingin curhat semuanya ke dia, dia sahabat aku. I love Nita, hihi “
oh, jadi nama si penelpon itu Nita, sahabat Olive, sudah ku duga. Semakin banyak yang ku baca di situ, di diary itu dan entah mengapa aku seakan mengenal Nita dan menganggapnya juga sebagai sahabatku. Aku merasa nyaman dengan apa yang ku baca, sesekali aku tersenyum geli dan sesekali aku sesegukan ketika membaca kisahnya. Kisahku juga yang telah di tulis kembali oleh tangannya, sedikit aku merasa bangga sebagai orang yang telah di tulis namanya. Sedikit sedih karena mengecewakannya, dan tumpukan rasa rinduku yang tersimpan dalam hati. Oliveku, aku merindukanmu.
Aku melihat sekelilingku kembali, berbeda dengan suasana yang sedang ku baca, di dunia nyata semuanya hening. Detik demi detik ku dengar beratnbsp; &nbsuran, melanjutkan membaca diary hijau itu dengan semangat walau mata ini terasa berat dan kantuk memang mengantuiku. Namun ku baca diary itu dengan sepenuh hati, ikut tertawa dan ikut bersedih. Tiba – tiba jam berdentang keras, mungkin mengingatkan ku untuk kembali ke dunia nyata, jam 3 pagi. Setelah diary itu ku baca sampai selesai, aku mulai merebahkan diri di tikar yang telah di sediakan, mencoba sebentar memikirkan kenangan itu sebelum mataku kalah bertanding dengan rasa kantukku. Atau mungkin mataku juga akan tertutup sebagaimana mata Olive tertutup.
“ Ya. “ kata ku dengan suara bingung karna nomor itu tak di kenal.
“ uhk, ini Adit ? “ suara ini menunjukkan bahwa pemiliknya sudah menangis semalaman
“ iya, ada apa ? “ tanyaku dengan nada khawatir, tak bisa menutupi perasaanku.
“ Dit , Olive kritis .. .. “ hanya itu suara yang sempat ku dengar karena selanjutnya si penelpon pun menangis kencang. HPku biarkan tergeletak di lantai, aku tak bisa dan tak sanggup lagi menggenggamnya aku hanya membayangkan hilangnya cinta pertama itu dari dalam kehidupanku. Aku tak tau harus melalukan apa ketika kenyataan berakhir pahit seperti ini, kenyataan yang membawaku kepada kebenaran yang menunjukkan sikap pengecutku. Cinta pertamaku, Olivia Zane Andini yang telah merebut segala yang ada di kehidupanku. Yang membuat aku ingin selalu ada di sampingnya, mendengar ceritanya, melihatnya, merasakan betapa cinta itu indah. Dia yang benar – benar cinta pertamaku, dan kini kenyataan dengan tega merebutnya dariku. Membiarkan diri ini terpuruk hingga mungkin ajal akan menjemputku. Aku tak tau harus berkata apa karna yang kulihat ini adalah kenyataan. Ketika di hadapkan oleh kenyataan ini, aku ingin dia tau betapa sesungguhnya aku mencintainya dan aku ingin dia tau hanya dia yang telah mengisi hatiku. Aku ingin dia sadar dengan segala yang telah aku curahkan hanya untuknya, namun bibirku terlalu kelu untuk mengatakan ‘aku mencintaimu’ padanya, bibirku terlalu transparan untuk mengobrol dengannya. Bahkan aku yang selalu melindungi tubuhku dari sentuhan perempuan manapun, tak kan bisa menghindar dari tarikannya, dia menarikku lebih dalam ke dalam cintanya. Terlalu manis untuk terucap, bahkan hingga saat ini aku mengingatnya secara detail, semua jawaban, kata – kata yang muncul dari bibirnya. Dia bahkan melebihi bidadari bagiku, dia membuatku seolah sempurna, dia membuatku hanya bisa memandangnya tidak yang lain. Dan sekarang, aku di hadapkan pada kenyataan yang tak memperbolehkan aku menangis karena aku laki – laki, aku Aditya Vino Wijaya . Sekarang aku sangat menyesal tak pernah mengungkapkan cintaku padanya, seseorang yang bagaikan segalanya bagiku, hatiku berubah kelam, tak ada lagi yang bisa aku lihat di dalamnya. Cinta yang dulu ada dan akan selalu ada, walaupun akan terasa berbeda, dan hingga saat ini aku selalu memutar kembali kenanganku dengannya. Aku memang laki – laki yang terlalu lemah, bahkan aku tak sanggup menanyakan alasan kenapa Olive kritis . Ku raih lagi handphone ku, ku telpon lagi nomor yang tadi menelponku. Beberapa menit aku menunggu jawaban,
“ Adit, cepet kesini ! uhk, Adit .. cepet .“ suara itu memerintahku, aku segera keluar rumah tanpa berkata seikitpun, tanpa peduli dengan pakaianku, tanpa mematikan telponnya. Aku meraih kunci motor lalu pergi dengan motorku .
“anda di mana? “ Tanya ku khawatir.
“ aku di RS Global, cepet kesini . sepertinya masih ada yang ingin Olive beritahu kepadamu “ kata suara itu dengan cepat , sedetik kemudian aku termenung, untung jalanan sangat sepi jadi aku tak menabrak siapapun. Aku baru menyadarinya, aku segera sadar dan membawa motorku kea rah RS Global yag berjarak cukup jauh.
Sesampainya di rumah sakit, aku kembali menelpon nomor tadi hanya untuk menanyakan ruangan yang harus ku tuju. Aku mempercepat langkahku menuju ruangan itu, tak ku sadari hatiku yang benar – benar menangis di buatnya, airmataku berulang kali menetes di pipiku dan berulang kali pula aku mengusapnya. Aku tak ingin satu orang pun tau bahwa hatiku hancur, aku ingin mereka tetap menganggapku sebagai Adit yang santai dan ceria .
“ Adit! di sini .. “ suara itu memanggilku, suara si penelpon tapi tanpa perantara lagi. Aku mebalikkan tubuhku ke arah suara itu., aku memang salah jalur tadi. Aku memandanginya, dia yang selalu menemani Olive bahkan hingga sekarang , mungkin dia sahabat Olive.
“ Olive mana? “ suaraku bergetar lemah, sang penelpon pun terlihat sangat sedih, dia hanya menunjuk pintu kamar. Aku memasuki kamar itu, dan orang itu mengikutiku, tapi tak apalah mungkin karena dia khawatir aku berbuat macam – macam pada Olive , apalagi sekarang kondisiku sangat labil. Aku mengambil posisi duduk tepat di sebelah Olive, dan sang penelpon di belakangku, duduk di sofa yang panjang .
“ Olive, sadarlah “ kataku lembut seolah takut suaraku akan menyakitinya . Aku menggenggam tangan Olive lembut, aku masih merasakan kehidupan dalam tangannya. Dan seperti yang orang itu katakan, Olive seperti ingin bicara sesuatu padaku. Satu jam penuh aku berdoa sambil menggenggam tangannya, tidak ada respon sedikitpun dari tubuh Olive, bahkan detak jantungnya melemah. Aku panik dan makin menggenggam erat tangannya, aku ingin mengisyaratkan bahwa aku sangat menyayanginya dan aku tak ingin dia pergi. Sedetik kemudian, tangan Olive bergerak pelan seolah ingin menggenggam tanganku juga, matanya berputar dan sedikit demi sedikit membuka matanya. Aku tak bisa lagi menahan tangisku, tangis yang tak bisa ku ungkapkan dengan ribuan kata – kata , yang terlintas dalam benakku hanyalah “Aku terharu ”. Aku melihat senyum lemah Olive, seolah ingin mengucapkan banyak kalimat untukku.
“Adit .. “ katanya lirih dan itu menusuk hatiku , aku begitu senang dia masih mampu memanggil namaku.
“ iya Olive . “ hanya itu yang bisa terucap dari bibir ini, namun mata ini seluruhnya memandang setiap detail wajah Olive, dia menyunggingkan senyum aneh dan misterius untukku.
“ aku ingin kau tau, something “ katanya terputus – putus , dan aku tau butuh pengorbanan untuk mengatakannya. Aku hanya diam, tapi aku tau dia butuh jawaban
“ aku juga ingin kau tau . “
“ apa? “ tanyanya tetap dengan nada lemah.
“ kau duluan “ kataku sambil tersenyum, namun air mataku malah mengalir dan aku tak punya tenaga sedikitpun untuk mengusapnya. Tenagaku telah terpusat pada genggaman tangan dan wajahnya.
“ jangan menangis, aku hanya ingin berkata sesuatu yang tidak penting.”
“ aku takkan mengatakannya , jika kau tak mengatakannya”
Beberapa menit dia hanya terdiam, dia memandang wajahku dan dia menambah keyakinanku bahwa dialah yang tercipta untukku, namun itu semakin membuatk terpuruk melihat kenyataan.
“ aku menyayangimu, Aditya Vino Wijaya “ katanya lirih, dan aku hanya bisa tersenyum dan menangis .
“ dan aku sangat menyayangimu, Olivia Zena Andini “ kataku sambil menunduk, aku tak ingin melihat wajahnya dengan senyum mengembang tipis dan terlihat sangat bahagia. Aku tak kuat, aku ingin berkata lebih banyak tentang fakta yang ku simpan .
“ Jadilah milikku selamanya, Adit “ katanya sambil menyentuh pipiku, mengusap airmata di pipiku. Aku mengangguk, dia tersenyum lalu sedetik kemudian tangannya terjatuh. Aku berteriak memanggil siapa saja yang ada, suster segera masuk dan aku di paksa keluar oleh sang penelfon. Dia yang mencoba menenangkanku , namun dia hanya melakukan perbuatan yang sia – sia. Setengah jam kemudian, ketika aku berusaha menenangkan diriku sendiri yang telah lelah, dokter yang menangani Olive keluar ruangan. Aku mengerahkan segenap tenagaku untuk berlari kecil mengejar dokter itu, sang penelfon juga ikut mengejarnya.
“ Apa yang terjadi pada Olive, dok ?” tanyaku dengan wajah khawatir, cemas, sedih, marah , jengkel yang telah tercampur menjadi satu. Dokter memejamkan matanya sejenak, lalu memandangku seraya berkata
“ Kanker otaknya parah, dan kami telah berusaha semaksimal mungkin namun Tuhan yang menentukan” kata dokter, suara di belakangku langsung terdengar menangis histeris. Aku masih tak mengerti,
“ Apa maksud anda ?” tanyaku setengah memaksa dan tidak percaya.
“ Temanmu telah meninggal dunia “ kata dokter itu sambil memegangi kedua pundakku, namun aku menepisnya. Aku merasa marah pada dokter itu, aku marah karna aku tak tau apa penyakit sebenarnya yang di derita Olive, aku marah karna Olive harus pergi ketika dia telah menjadi milikku, dan aku bangga karna aku telah berjanji untuk memilikinya selamanya. Aku sedih karna dia telah meninggalkanku untuk selamanya, aku sedih karna Tuhan berkata lain, aku benci ketika aku mengingat semua ke-pecundanganku. Aku benci diriku dan aku sangat mencintai dia yang telah pergi, ketika itu aku berpikir bahwa jarak bukanlah halangan untukku mencintainya. Jadi telah ku putuskan untuk menjadi seperti binatang kesayangan Olive, kuda laut, yang hanya akan menikah satu kali seumur hidupnya, aku pun berjanji dalam diriku hanya untuk mencintai Olive seumur hidupku, dialah yang pertama di hatiku. Ada atau tak ada di dalam kenyataan, namun namanya lah yang akan selalu menghiasi setiap baris di hatiku. Aku membenturkan kepalaku ke tembok, hanya untuk membiarkan duka ini sedikit menghilang, namun malah kian perih. Aku tau Olive tak suka aku melakukannya, namun biarlah aku merasakan sakit yang dia rasakan.
“ Hentikan Adit , “ kata sebuah suara sambil memutarkan badanku, setetes darah mengalir dari keningku namun aku tak peduli . suara itu berubah menjadi isak tangis , lalu aku menjawab,
“ Apa yang perlu aku hentikan? Semua memang telah berakhir .” aku pun ikut menangis bersama sang pemilik suara, Olive memang makhluk terindah yang pernah ku temui. Cantiknya tak terpatahkan oleh apapun, dan ketika dia hilang berarti semuanya telah berakhir.
“ Ngga Adit, kamu ngga tau apa – apa . Kamu bahkan ngga tau siapa aku, kamu ngga tau Olive sakit apa, kamu ngga tau apa yang dia rasakanselama ini,kamu egois dan kamu tak peduli tapi selalu ingin di pedulikan ..” kata suara itu , aku menyadari sebagian benar, namun aku tak egois.
“ Aku ngga egois, aku tau Olive, aku mengenalnya. “ kataku dengan nada menantang, aku labil.
“ Aku tau kamu mencintai Olive tapi kamu bahkan tak pernah mencoba memahaminya. “ kata suara itu di selingi beberapa isakan yang membuat rasa ibaku muncul, namun aku tetap labil.
“ apa maksudmu ? “ tanyaku , entah dengan nada yang bagaimana.
“ entahlah, ini ! Baca semuanya dan kamu bakal ngerti . “ katanya sambil mengeluarkan diary warna hijau, aku tak tau Olive akan menyempatkan dirinya hanya untuk menulis kejadian yang telah lewat. Aku meraih diary itu, si pemilik suara yang tadi pergi entah kemana, dan aku memang tak peduli itu. Handphone-ku bergetar untuk kesekian kalinya, bedanya sekarang yang menelpon dari pihak rumah, bukan si pemilik suara yang tadi.
“ Adit, kamu di mana? Pagi – pagi udah main “ suara Ibuku terdengar, aku kesal namun menjawab
“ Temen Adit meninggal, Bu. Si Olive, tadi yang bawa Olive ke sini itu temennya tapi sekarang dia udah pulang, jadi Adit nungguin “ kataku menjelaskan sambil mencoba tetap dengan suara stabil.
“ Kenapa kamu ngga bilang Ibu ? “ suara ibuku begitu membuatku pusing
“ Aku buru – buru, ibu kasih tau ibunya Olive ya, please “ kataku dan akhirnya aku tak bisa lagi membendung tangisku. Untung ibu segera mematikan telponnya, atau ibu akan berteriak histeris di telpon mendengar anak laki lakinya menangis. Aku anak laki – laki yang kuat bukan cengeng, namun sungguh aku tak kuasa lagi untuk membendung tangis ini. Aku berjalan menuju kamar Olive, jenazahnya masih di situ dan belum di pindah, aku meluapkan segala perasaanku padanya, aku memeluk Oliveku dan dia tak bereaksi apa – apa. Ketika dia ku ceritakan segalanya, dia hanya diam membisu tak menjawab, matanya tertutup rapat seolah tak akan ada yang bia membukanya. Aku frustasi dengan keadaan ini, semuanya menghantuiku, ketika dia yang kucinta, yang setiap hari ku lihat senyumnya, yang setiap hari ku dengar celotehnya, kini hanyalah sebuah raga yang terbujur kaku. Aku tak rela, sungguh terlalu berat untukku, namun tangispun tak akan menyelesaikan sedikitpun. Hampir ber jam – jam aku meratapinya, melihatnya, memandanginya, menikmati kecantikannya untuk terakhir kali dan dalam kondisi yang sangat berbeda. Tiba – tiba saja, pintu kamar itu terbuka, ibuku dan orag tua Olive telah datang, beliau berdua langsung memeluk anaknya. Menangis histeris, aku bahkan tak mengerti kenapa mereka tak tau bahwa anak mereka sakit. Ibuku ikut menangis bersamaku, memelukku sesaat lalu mengalihkan segalanya untuk menghibur kedua orang tua Olive, setidaknya agar keduanya merasa lebih tabah menghadapi cobaan ini karna aku pun tak cukup tabah untuk menghadapi semuanya.
“ Om, Tante, biar jenazah Olive di urus dulu ya “ kataku ketika melihat 2 suster berpakaian putih mendekat, ayah Olive sedikit menyeret tubuh Ibu Olive yang tak mau jauh dari anaknya. Aku penasaran tentang apa yang terjadi di balik kejadian ini, diary hijau dan orang tua Olive yang menurutku saling berhubungan dan tentang Olive yang telah menguji ketegaranku.
“ Nak, sebaiknya kamu pulang saja ya, biar ibu dan orang tua Olive yang akan mengurus semuanya” kata ibu , aku menyadarinya, pakaian tidurku dan segalanya sangat menjijikan yang melekat di badanku. Namun aku tak ingin pergi, dan akhirnya aku pergi ketika kenyataan benar – benar memerintahkan aku untuk pergi. Mungkin aku perlu istirahat sejenak lalu kembali dengan kondisi badan yang siap mendoakan cinta pertamaku itu, aku akan selalu berdoa untuknya.
Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan tidur sejenak, setelah itu makan lalu kembali ke rumah sakit. Ketika aku memasuki ruangan tempat Olive tadi, semua sepi , aku bertanya pada orang – orang yang lewat dan sebagian mengatakan bahwa jenazahnya mungkin sudah di pindahkan. Aku bingung harus kemana, aku berkali kali mengitari setiap jalanan yang ada di rumah sakit karena aku terlalu labil untuk berpikir jernih.
“ Adit, “ suaranya mengagetkanku, suara yangamat ku kenal. Suara ibuku.
“ Bu, Olive dimana? “
“ sudah di rumahnya, sedang di urus untuk di makamkan” ketika ibu mengucapkannya, seperti ada sebuah belati yang mencabik – cabik hatiku, seperti ada pisau tajam yang menembus jantungku, aku harus menyadarinya lagi, cinta pertamaku kini telah tiada. Ibu berjalan di depanku, beliau menoleh sebentar seolah menyuruhku mengikutinya, tiba – tiba selembar kertas melayang jatuh tepat di depanku. Ku ambil kertasnya, tulisan itu mirip tulisan Olive, aku menahan nafas dan membacanya
“ aku menyayangimu” hanya itu yang tertulis, aku tersenyum karna aku bahagia namun sekarang segalanya telah berbeda. Aku menyimpan kertas itu lalu mengikuti ibuku berjalan. Aku menaiki mobil yang di kendarai ibuku, entah ke arah mana, karena yang ada dalam pikiranku sekarang hanyalah bagaimana menenangkan diriku sendiri.
Aku datang ke rumahnya, mendoakannya, melihat seluruhnya, melakukan yang aku bisa untuknya, menahan air mata ini sekuatnya, melakukan apa yang juga di lakukan sebagian orang jika tetangganya meninggal dunia. Dan aku melakukan semuanya karena, Olive yang meninggal dunia. Tiba – tiba ada sebuah pertanyaan yang mengusik hatiku, kanker otaknya dan kenapa aku tak mengetahuinya. Pertanyaan itu menggangguku setiap detik, aku resah di tengah kesedihan. Ingin ku bakar rasa penasaran itu,namun inilah aku. Aku memandangi jam ketika pembacaan doa – doa untuk Olive, jam 09.00 malam, aku mengingat Olive lagi dan ingin rasanya aku tersenyum , namun ketika pandangan itu ku arah kan pada sekelompok orang yang sedang membaca doa untuknya, senyum itu berubah. Aku tak menyangka Olive akan meninggalkanku dengan penyakit yang membuatku resah.
Hari semakin malam, aku tidak pulang ke rumah, sengaja menginap di rumah orang tua Olive hanya untuk sekedar membantu mereka. Beberapa orang yang juga menginap di situ telah tertidur lelap, namun aku tetap terjaga, di temani oleh puluhan foto Olive yang terpajang di dinding rumah itu, foto Olive yang seolah layu dan membuat mataku tak berhenti mengeluarkan air mata. Ayah Olive lewat di depanku, memandangku tertegun, mungkin karena mataku yang terlihat sangat lelah menangis seharian, beliau bahkan lebih tegar dariku. Beliau melangkah menjauhiku, aku tahu dia hanya melewatiku seakan aku hanya sebuah kerikil di jalanan. Sedikit bagian dari dalam diriku mendesah, mungkin bukan saatnya aku bertanya dan di jawab. Beberapa detik kemudian, ayah Olive terhenti di depan sebuah foto, foto Olive bersama teman – temannya, lalu sejurus kemudian meninggalkan apa yang baru saja di lihatnya. Aku berdecak, aku ingin sekali bertanya dan mengungkapkan apa yang aku rasakan saat ini, namun bibir ini dan segenap yang ku miliki saat ini hanya bisa terdiam.
Beberapa menit setelah ayah Olive menjauh dari tempatku sekarang, aku hanya terus menerus memandang ke segala arah dan tanpa tujuan, tiba tiba saja ada sesuatu yang memaksaku untuk membuka isi tasku. Aku menuruti perintah itu, karena ku anggap itu sebagai perintah dari hati kecilku, tas ku buka perlahan tak ingin ada seorang pun tau bahwa aku masih terjaga, ku lihat isi di dalamnya. Ada warna yang menarik hatiku untuk mengambilnya, sesuatu berwarna hijau, diary Olive.
“Diary, did you know? Tadi aku ngerasa di bales sama Adit, dia memperlakukan aku seolah tak ingin membuatku kecewa. Dia memperlakukan aku bagaikan aku seorang yang harus dia jaga dan dia sayangi, aku ingin dia tau kalau aku menyukainya. Lebih dari sekedar suka.”
speechless. Aku hanya terdiam, aku ingat aku pernah melakukannya tapi yang ada di otakku waktu itu hanyalah, dia seorang perempuan yang memang sudah seharusnya aku berbuat baik padanya. Tapi sejujurnya sebagian dari dalam diriku menyukainya menganggapku seperti itu. Ku buka dan ku baca lembar demi lembar, semuanya tentangku, aku ingin menangis mengenang semua kisahku dan kisahnya. Air mataku terurai namun suaraku hilang entah kemana, yang terdengar hanya isakan di tengah konsentrasiku pada apa yang ku baca. Aku memandang ke segala arah sebentar hanya untuk memastikan tidak ada satupun orang yang melihatku menangis. Aku hanya terdiam, semua bagian dari diriku terkelu membacanya, dia menganggapku seolah aku sempurna. Seperti aku menganggapnya, aku tau apa yang dia rasakan, sampai pada saat yang ku baca membuat hatiku tersentak. Aku membaca apa yang aku cari di sini, setelah membaca berbulan – bulan kisahnya, aku menemukannya.
“ Hey, dokter bilang sisa hidupku tinggal sebulan lagi. Memang tak semudah itu dokter mengatakannya, setelah aku memaksanya, dan kini aku coba menerimanya. Penyakit kanker otak yang menyerangku sejak sepuluh tahun lalu. Memang berat namun aku harus mengejar mimpiku, aku ingin Adit menggenggam tanganku dan mengatakan ‘aku mencintaimu’, walaupun itu di sisa hidupku”
Okay, Olive, aku telah melakukannya. Tanpa kau beritahu dan tanpa kau komandoi lagi, aku telah melakukannya dengan segenap hatiku untuk dirimu. Aku telah mengatakan ‘aku menyayangimu’ dan yang ku harapkan aku mengatakannya bukan di sisa akhir hidupmu. Aku ingin berteriak sekencang mungkin untuk melepas sedikit bebanku, atau mungkin menyakiti diriku sendiri untuk membuatku merasa sedikit lebih tenang, namun aku sadar seketika, hanya Olive yang bisa menenangkanku bahkan di tengah badai sekalipun. Dengan segenap tenagaku yang melemah dan yang kini hanya ku curahkan pada diary hijau itu, aku membaca lembarannya lagi, yang tadi di tulis tepat sebulan yang lalu, prediksi dokter itu benar. Secercah rasa memerintahkan aku untuk membaca diary itu lagi, larut jauh lebih dalam di antara barisan huruf yang tertata rapi. Semakin sakit hatiku, ketika yang ku baca sampai pada ‘Olive merahasiakan penyakitnya’ hanya untuk sebuah alas an yang konyol menurutku, dia tak ingin aku ikut sedih bersamanya, karena saat itu dia malah menikmati hari – harinya walaupun penuh dengan harapan harapan besar. Dan aku sebulan yang lalu, yang masih bingung apa yang harus ku katakan hari ini pada Olive, apa yang ku lakukan ketika mata kami bertemu. Aku masih ingat kisah 2 tahun lalu yang juga tertulis di diary Olive dan masih tersimpan dengan sangat jelas di otakku, ketika aku sedang di kejar temanku aku tak sengaja menabraknya, dia mendesah pelan lalu mengambil tempat minumnya yang jatuh, refleks aku ingin mengambilnya namun tangannya telah terlebih dulu menggenggam tempat minum itu, tanganku tidak sengaja menggenggam tangannya tapi aku buru - buru melepasnya sambil berkata sekenanya lalu lari lagi. Padahal aku tau sudah tak ada yang mengejarku, dan di tengah lariku aku menengok ke belakang melihat wajah Olive yang sedikit memerah, aku hanya tersenyum kecil. Banyak kisah yang ku lalui bersamanya, tak bisa ku ceritakan lebih luas atau kau akan melihatku menangis. Aku membaca kembali apa yang telah ku lewati, yang ku ingat, yang terlupakan bahkan yang terlewatkan. Kisahku yang terlewatkan bahkan yang sama sekali tak ku lihat membuatku sedikit menyesalinya, mengasihani diriku sendiri yang terlalu lama terperangkap dalam jerat hati yang tak tentu arah. Mataku tertuju pada beberapa baris tulisan Olive yang berisi,
“ ternyata Nita memang sahabat aku yang paling baik, yang mau nemenin aku. Di saat aku sehat atau sakit, aku udah cerita sama dia tentang penyakit aku. Dia hebat, dia malah nguatin aku :) aku pingin curhat semuanya ke dia, dia sahabat aku. I love Nita, hihi “
oh, jadi nama si penelpon itu Nita, sahabat Olive, sudah ku duga. Semakin banyak yang ku baca di situ, di diary itu dan entah mengapa aku seakan mengenal Nita dan menganggapnya juga sebagai sahabatku. Aku merasa nyaman dengan apa yang ku baca, sesekali aku tersenyum geli dan sesekali aku sesegukan ketika membaca kisahnya. Kisahku juga yang telah di tulis kembali oleh tangannya, sedikit aku merasa bangga sebagai orang yang telah di tulis namanya. Sedikit sedih karena mengecewakannya, dan tumpukan rasa rinduku yang tersimpan dalam hati. Oliveku, aku merindukanmu.
Aku melihat sekelilingku kembali, berbeda dengan suasana yang sedang ku baca, di dunia nyata semuanya hening. Detik demi detik ku dengar beratnbsp; &nbsuran, melanjutkan membaca diary hijau itu dengan semangat walau mata ini terasa berat dan kantuk memang mengantuiku. Namun ku baca diary itu dengan sepenuh hati, ikut tertawa dan ikut bersedih. Tiba – tiba jam berdentang keras, mungkin mengingatkan ku untuk kembali ke dunia nyata, jam 3 pagi. Setelah diary itu ku baca sampai selesai, aku mulai merebahkan diri di tikar yang telah di sediakan, mencoba sebentar memikirkan kenangan itu sebelum mataku kalah bertanding dengan rasa kantukku. Atau mungkin mataku juga akan tertutup sebagaimana mata Olive tertutup.
| Reaksi: |
Langganan:
Entri (Atom)

